
Ini adalah kisah nyata,yang terukir dalam masa Penantian diri.
Kisah ini dimulai ketika tanggal 7 April 2009 seorang ikhwan yang
berazam,”Ukhti, boleh ga ketika dah lulus nanti aku menjemputmu untuk
menjadi ustadzah di rumahku nanti” ucapnya kepada seorang akhwat. Ikhwan
tersebut sebut saja akhi…ia menyukai seorang akhwat yang satu kampus
dengannya. Ketertarikannya karena kelembutan sikap dan kesolehannya.
Perasaanya pun tumbuh entah dari kapan, namun ia ingin selalu menjaga
dirinya dari apa yang tidak Allah Ridhoi dan Tidak Allah sukai, entah
sesungguhnya perasaan akhwat itu memahami atau tidak.
Perasaan itupun tumbuh di dasar hatinya yang semakin subur, semakin
lama semakin subur. Akhi menyadari bahwa cintanya masih belum pada
waktunya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang mahasiwa yang
belum punya apa2 untuk bisa dipertanggungjawabkan ataupun untuk
menjemputnya.
Setelah sekian lama Akhi pun berfikir.”Ya Robb..Baikkah diriku
untuknya?” lamunnya sambil mencoba memandangi diri dihadapan sebuah
cermin. Perasaan inipun kian mengusik kehidupannya, terkadang terasa
duka dan kadang terasa suka. Disinilah awal dari Cinta yang mendorong
Cinta Illahi.
Akhirnya Akhi memutuskan untuk menulis sebuah surat kepada ukhti di penantian.
Yth Ukhti,Engkau tahu bahwa diriku bukanlah siapa-siapa, bahkan hari
ini pun aku masih berfikir baikkah diriku untukmu. UKhti, ana menyadari
bahwa ana dah berazam untuk menjemput ukhti suatu hari nanti. Ukhti,
dengan segala kelemahan diri ini, ana sampaikan bahwa azam ini akan
berakhir ketika;
1. Engkau menemukan ikhwan yang lebih baik daripada aku, lebih baik
dari sikapku, ucapanku dan lebih baik dari akhlakku karena aku menyadari
bahwa dirku bukanlah sesempurna yang engkau lihat. Diriku hanyalah
seorang manusia yang Allah tutupkan aibnya, namun kalau Allah bukakan
tentang aibku pasti engkau tahu bahwa aibku sungguh sangat banyak. Aku
tidak punya kelebihan apa2 untuk dibangggakan dan untuk diberikan
kepadamu kecuali Allah yang selalu menjadi pegangan dan harapan didalam
hidupku. Sementara engkau adalah seorang akhwat yang solehah, ta’at,
lembut ucapmu, bagus akhlakmu dan cerdas, mempunyai banyak kemampuan
dan keinginan yang mulia, memiliki harapan yang diimpi-impikan yaitu
mendamba seorang suami yang soleh, yang manjadi nakhoda dalam menjalani
kehidupan ini. Namun diriku belum sesempurna yang engkau harapkan.
Ukhti, maka jika ukhti menemukan ikhwan yang lebih baik dari pada
aku terutama lebih baik dalam masalah pemahaman agama dariku, maka
silahkan ukhti pilihlah ikhwan tersebut agar ukhti bisa bahagia dunia
akhirat. kebahagian ukhti adalah kebahgaian aku, meski entah hati ini
akan bisa menerima atau tidak namun……….Insyaallah itu adalah yang
terbaik buatmu, yang akan menjadi ladang pahala menuju Keridhoan-Nya.
2. Ketika ada hal yang aku lakukan bertentangan dengan Syari’ah
Islam. Ukhtii, diriku bukanlah seorang ustad (berilmu) dan mafhum
(Faham) dalam masalah agama dengan baik. Aku hanyalah seorang insan
pembelajar yang sedang memahami dan belajar mengenal islam,pemahamanku
tentang islam masih sangat terbatas,namun keinginan yang besar untuk
tetap istiqomah dalam meningkatkan kualitas diri dihadapan Robb-Nya.Maka
Sangat besarlah kemungkinan kesalahan yang ada pada diriku baik
kesalahan ucap maupun prilakuku,maka apabila engkau temukan hal tersebut
pada diriku, maka ukhti silahkan sampaikan bahwa diriku tidak perlu
lagi menjemputmu.
Meski demikian, dengan segala kelemahan diri dan kekurangan yang ada
pada diriku, aku masih berharap engkau tetap istiqomah menanti diriku
untuk menjemputmu. Meski sekarang ini kita jarang saling berkomunikasi
dan saling menyapa, namun dirimu tetap dihati ini, yang terukir indah di
sanubari, karena sebelum di ijab-kabulkan syari;ah tetap menjadi
batasan dari interkasi kita. Berlindung kepada Allah atas segala
kegundahan dan keraguan didalam hati ini.
Sejujurnya aku tidak tahu apakah engkau masih istiqomah
menungguku..?? namun keyakinan kepada Allahlah yang membuatku yakin
bahwa ia akan memberikan yang terbaik kepada hambaNya dalam setiap
segi-kehidupannya, yang tidak pernah mendzalimi hambaNya dan selalu
setia mendengarkan setip keluh-kesah hambaNya, meski hambaNya terkadang
memalingkan wajahNya dari petunjuk dan aturan dariMu.
Ukhti, demikian surat ini ditulis untuk menyerahkan semuanya kepada
Illahi Robbi, sebagai ketawakallan diriku untuk memohon yang terbaik
dari sisiNya. Aku memohon ma’af kalau selama ini kita sering bertemu
tapi tidak pernah bertutur sapa itu tiada lain hanyalah untuk menjaga
izzah (kemuliaan )dirimu dan Iffah (Kehormatan) dirimu sebagai seorang
muslimah yang solehah, aku yakin bahwa engkau akan mendapatkan ikhwan
yang terbaik dari Allah apakah diriku ataupun Ikhwan Lain.
Sekian lama azam ini diucapkan namun,Allahlah yang lebih tahu tentang
hati setiap manusia, perasaanya di serahkan kembali kepada Allah karena
Dialah yang menitipkan perasaaan ini. Namun Akhi masih meyakini bahwa
“Dirimu adalah seorang akhwat terbaik dalam hidupku, namun aku belum
tentu yang terbaik untukmu”.
Apabila Ukhti sudah membaca surat ini dan masih tetap istiqomah menungguku maka, “Nantikanku dibatas waktu”.
dan surat itu pun sampai pada yang dituju. Kemudian, ukhti membaca surat itu, lalu membalasnya…
Yth Akhi,dengan segala kerendahan hati ukhti katakan,ukhti sudah
paham apa yang antum ingin capai kelak pd masanya. dan ukhti katakan,
sungguh bahagia seseorang yang akan antum jemput itu…
silakan antum berazam,silakan antum tunggu hingga saatnya…dan ukhti pun akan menunggu hingga saatnya…
namun untuk saat ini, ukhti mohon agar kita bisa saling menjaga hati. ukhti sadari diri ini belum bisa menjaga hati dengan baik.
Ukhti kutip sepenggal surat itu,
“Aku memohon ma’af kalau selama ini kita sering bertemu tapi tidak
pernah bertutur sapa itu tiada lain hanyalah untuk menjaga izzah
(kemuliaan )dirimu sebagai seorang muslimah yang solehah,”
dan sikap tersebut adalah lebih baik menurut ukhti, ukhti mohon maaf
jika ada sikap yang mengecewakan antum. jika antum sudah mengerti maksud
ukhti, ukhti harap ini adalah komunikasi kita yang terakhir yang
membahas hubungan yang belum saatnya ini, hingga saatnya nanti, agar
hati ini bisa terjaga. atas dasar saling percaya, mudah-mudahan antum
bisa percaya bahwa ukhti akan tetap menunggu antum hingga saatnya.
Semoga saat itu antum sudah siap dengan segalanya,begitu juga ukhti.
Selamat berjuang mencari Ridho Illahi
Ditutupnya surat itu dan dikirimkan,dengan harapan hati bisa terus
terjaga, sikap pun bisa terus terjaga…hati dan sikap ukhti dan akhi bisa
terus terjaga…
semoga…dan ukhti itu berazam untuk tetap menunggu, hingga masanya…
Diantara kita tidak ada ikatan yang mengikat, karena sesungguhnya
ikatan yang mengikat menurut pandangan syari;ah hanyalah ikatan
pernikahan. sementara azam hanyalah suatu keinginan yang kuat dengan
berdasarkan syari’ah islam serta tetap memohon agar Allah memberikan
yang terbaik untuk kita,.
Oleh karena itu tidak ada hak dan kewajiban yang harus tertunaikan
karena ukhti masih ghoir muhson (akhwat yang bukan muhrim), maka tidak
menutup kemungkinan kalo engkau menerima dan memilih seorang ikhwan yang
lebih baik dariku.
Barakallah fikum ..semuanya dikembalikan kepada Allah karena Dialah
yang Maha Mengetahui yang terbaik buat Hamba-Nya dengan tetap
berhusnudzan kepada-Nya.
“Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk buatmu dan boleh
jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik buatmu”(Qs.Al-baqarah).
Yakinlah atas keputusan dan kehendak dari Allah.
“Ya Robb, kami serahkan semuanya kepada-Mu, karena kami yakin engkau
akan memberikan yang terbaik buat kami karena Engkau tidak pernah
mendzalimi hambaMu sedikitpun”.Aamiin Ya Robbal ’alamin.
Ini adalah kisah nyata,yang terukir dalam masa Penantian diri.
Salam Ukhuwah..
Akhukum..- iqbal el bughory -