Maandag, 20 Mei 2013

Dalam Penantian Sebelum Engkau Halal Bagiku



Ini adalah kisah nyata,yang terukir dalam masa Penantian diri.
Kisah ini dimulai ketika tanggal 7 April 2009 seorang ikhwan yang berazam,”Ukhti, boleh ga ketika dah lulus nanti aku menjemputmu untuk menjadi ustadzah di rumahku nanti” ucapnya kepada seorang akhwat. Ikhwan tersebut sebut saja akhi…ia menyukai seorang akhwat yang satu kampus dengannya. Ketertarikannya karena kelembutan sikap dan kesolehannya. Perasaanya pun tumbuh entah dari kapan, namun ia ingin selalu menjaga dirinya dari apa yang tidak Allah Ridhoi dan Tidak Allah sukai, entah sesungguhnya perasaan akhwat itu memahami atau tidak.

 Perasaan itupun tumbuh di dasar hatinya yang semakin subur, semakin lama semakin subur. Akhi menyadari bahwa cintanya masih belum pada waktunya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang mahasiwa yang belum punya apa2 untuk bisa dipertanggungjawabkan ataupun untuk menjemputnya.

Setelah sekian lama Akhi pun berfikir.”Ya Robb..Baikkah diriku untuknya?” lamunnya sambil mencoba memandangi diri dihadapan sebuah cermin. Perasaan inipun kian mengusik kehidupannya, terkadang terasa duka dan kadang terasa suka. Disinilah awal dari Cinta yang mendorong Cinta Illahi.
Akhirnya Akhi memutuskan untuk menulis sebuah surat kepada ukhti di penantian.

Yth Ukhti,Engkau tahu bahwa diriku bukanlah siapa-siapa, bahkan hari ini pun aku masih berfikir baikkah diriku untukmu. UKhti, ana menyadari bahwa ana dah berazam untuk menjemput ukhti suatu hari nanti. Ukhti, dengan segala kelemahan diri ini, ana sampaikan bahwa azam ini akan berakhir ketika;

1. Engkau menemukan ikhwan yang lebih baik daripada aku, lebih baik dari sikapku, ucapanku dan lebih baik dari akhlakku karena aku menyadari bahwa dirku bukanlah sesempurna yang engkau lihat. Diriku hanyalah seorang manusia yang Allah tutupkan aibnya, namun kalau Allah bukakan tentang aibku pasti engkau tahu bahwa aibku sungguh sangat banyak. Aku tidak punya kelebihan apa2 untuk dibangggakan dan untuk diberikan kepadamu kecuali Allah yang selalu menjadi pegangan dan harapan didalam hidupku. Sementara engkau adalah seorang akhwat yang solehah, ta’at, lembut ucapmu, bagus akhlakmu dan cerdas, mempunyai banyak kemampuan dan keinginan yang mulia, memiliki harapan yang diimpi-impikan yaitu mendamba seorang suami yang soleh, yang manjadi nakhoda dalam menjalani kehidupan ini. Namun diriku belum sesempurna yang engkau harapkan.
Ukhti, maka jika ukhti menemukan ikhwan yang lebih baik dari pada aku terutama lebih baik dalam masalah pemahaman agama dariku, maka silahkan ukhti pilihlah ikhwan tersebut agar ukhti bisa bahagia dunia akhirat. kebahagian ukhti adalah kebahgaian aku, meski entah hati ini akan bisa menerima atau tidak namun……….Insyaallah itu adalah yang terbaik buatmu, yang akan menjadi ladang pahala menuju Keridhoan-Nya.


2. Ketika ada hal yang aku lakukan bertentangan dengan Syari’ah Islam. Ukhtii, diriku bukanlah seorang ustad (berilmu) dan mafhum (Faham) dalam masalah agama dengan baik. Aku hanyalah seorang insan pembelajar yang sedang memahami dan belajar mengenal islam,pemahamanku tentang islam masih sangat terbatas,namun keinginan yang besar untuk tetap istiqomah dalam meningkatkan kualitas diri dihadapan Robb-Nya.Maka Sangat besarlah kemungkinan kesalahan yang ada pada diriku baik kesalahan ucap maupun prilakuku,maka apabila engkau temukan hal tersebut pada diriku, maka ukhti silahkan sampaikan bahwa diriku tidak perlu lagi menjemputmu.

Meski demikian, dengan segala kelemahan diri dan kekurangan yang ada pada diriku, aku masih berharap engkau tetap istiqomah menanti diriku untuk menjemputmu. Meski sekarang ini kita jarang saling berkomunikasi dan saling menyapa, namun dirimu tetap dihati ini, yang terukir indah di sanubari, karena sebelum di ijab-kabulkan syari;ah tetap menjadi batasan dari interkasi kita. Berlindung kepada Allah atas segala kegundahan dan keraguan didalam hati ini.

Sejujurnya aku tidak tahu apakah engkau masih istiqomah menungguku..?? namun keyakinan kepada Allahlah yang membuatku yakin bahwa ia akan memberikan yang terbaik kepada hambaNya dalam setiap segi-kehidupannya, yang tidak pernah mendzalimi hambaNya dan selalu setia mendengarkan setip keluh-kesah hambaNya, meski hambaNya terkadang memalingkan wajahNya dari petunjuk dan aturan dariMu.

Ukhti, demikian surat ini ditulis untuk menyerahkan semuanya kepada Illahi Robbi, sebagai ketawakallan diriku untuk memohon yang terbaik dari sisiNya. Aku memohon ma’af kalau selama ini kita sering bertemu tapi tidak pernah bertutur sapa itu tiada lain hanyalah untuk menjaga izzah (kemuliaan )dirimu dan Iffah (Kehormatan) dirimu sebagai seorang muslimah yang solehah, aku yakin bahwa engkau akan mendapatkan ikhwan yang terbaik dari Allah apakah diriku ataupun Ikhwan Lain.

Sekian lama azam ini diucapkan namun,Allahlah yang lebih tahu tentang hati setiap manusia, perasaanya di serahkan kembali kepada Allah karena Dialah yang menitipkan perasaaan ini. Namun Akhi masih meyakini bahwa “Dirimu adalah seorang akhwat terbaik dalam hidupku, namun aku belum tentu yang terbaik untukmu”.

Apabila Ukhti sudah membaca surat ini dan masih tetap istiqomah menungguku maka, “Nantikanku dibatas waktu”.
dan surat itu pun sampai pada yang dituju. Kemudian, ukhti membaca surat itu, lalu membalasnya…

Yth Akhi,dengan segala kerendahan hati ukhti katakan,ukhti sudah paham apa yang antum ingin capai kelak pd masanya. dan ukhti katakan, sungguh bahagia seseorang yang akan antum jemput itu…
silakan antum berazam,silakan antum tunggu hingga saatnya…dan ukhti pun akan menunggu hingga saatnya…
namun untuk saat ini, ukhti mohon agar kita bisa saling menjaga hati. ukhti sadari diri ini belum bisa menjaga hati dengan baik.

Ukhti kutip sepenggal surat itu,
“Aku memohon ma’af kalau selama ini kita sering bertemu tapi tidak pernah bertutur sapa itu tiada lain hanyalah untuk menjaga izzah (kemuliaan )dirimu sebagai seorang muslimah yang solehah,”
dan sikap tersebut adalah lebih baik menurut ukhti, ukhti mohon maaf jika ada sikap yang mengecewakan antum. jika antum sudah mengerti maksud ukhti, ukhti harap ini adalah komunikasi kita yang terakhir yang membahas hubungan yang belum saatnya ini, hingga saatnya nanti, agar hati ini bisa terjaga. atas dasar saling percaya, mudah-mudahan antum bisa percaya bahwa ukhti akan tetap menunggu antum hingga saatnya.

Semoga saat itu antum sudah siap dengan segalanya,begitu juga ukhti.
Selamat berjuang mencari Ridho Illahi
Ditutupnya surat itu dan dikirimkan,dengan harapan hati bisa terus terjaga, sikap pun bisa terus terjaga…hati dan sikap ukhti dan akhi bisa terus terjaga…
semoga…dan ukhti itu berazam untuk tetap menunggu, hingga masanya…

Diantara kita tidak ada ikatan yang mengikat, karena sesungguhnya ikatan yang mengikat menurut pandangan syari;ah hanyalah ikatan pernikahan. sementara azam hanyalah suatu keinginan yang kuat dengan berdasarkan syari’ah islam serta tetap memohon agar Allah memberikan yang terbaik untuk kita,.

Oleh karena itu tidak ada hak dan kewajiban yang harus tertunaikan karena ukhti masih ghoir muhson (akhwat yang bukan muhrim), maka tidak menutup kemungkinan kalo engkau menerima dan memilih seorang ikhwan yang lebih baik dariku.

Barakallah fikum ..semuanya dikembalikan kepada Allah karena Dialah yang Maha Mengetahui yang terbaik buat Hamba-Nya dengan tetap berhusnudzan kepada-Nya.

“Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk buatmu dan boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu baik buatmu”(Qs.Al-baqarah). Yakinlah atas keputusan dan kehendak dari Allah.
“Ya Robb, kami serahkan semuanya kepada-Mu, karena kami yakin engkau akan memberikan yang terbaik buat kami karena Engkau tidak pernah mendzalimi hambaMu sedikitpun”.Aamiin Ya Robbal ’alamin.

Ini adalah kisah nyata,yang terukir dalam masa Penantian diri.

Salam Ukhuwah..

Akhukum..- iqbal el bughory -

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking